Februari 4, 2026
Perbaikan-jembatan-gantung-yang-rusak-pada-2026_2

Pesawaran – Pemerintah Desa Sukaraja, Kecamatan Gedong Tataan, Kabupaten Pesawaran, memastikan perbaikan jembatan gantung yang menghubungkan permukiman warga dengan jalan setapak menuju sawah akan direalisasikan pada 2026.

Penjabat Kepala Desa Sukaraja, Surawan, menjelaskan jembatan yang hanya bisa dilalui pejalan kaki itu telah masuk dalam rencana kerja pemerintah desa melalui Dana Desa.

“Jembatan ini memang khusus untuk pejalan kaki, tidak bisa dilewati kendaraan roda dua apalagi roda empat. Aksesnya hanya menghubungkan sekitar 15 rumah warga di Dusun 1 RT 03 ke RT 02 serta jalan setapak menuju sawah,” kata Surawan, Senin (22/9/2025).

Ia menambahkan, perbaikan jembatan diharapkan dapat meningkatkan keamanan dan kenyamanan warga. “Harapannya, jembatan bisa digunakan dengan baik, aman, dan lancar, terutama bagi anak-anak yang hendak bersekolah maupun warga yang bekerja ke sawah,” ujarnya.

Kondisi jembatan tersebut sebelumnya ramai diperbincangkan publik setelah sebuah video viral di media sosial memperlihatkan seorang anak melintasi jembatan gantung yang disebut rusak parah.

Namun, Camat Gedong Tataan, Darlis, menegaskan narasi dalam video tersebut tidak sepenuhnya benar. “Setelah bertemu dengan yang bersangkutan, anak itu hanya disuruh mengatakan jembatan rusak parah, padahal dia belum mengetahui kondisi sebenarnya. Jadi ada pihak yang mengarahkan narasi itu,” jelasnya.

Terungkap pula fakta lain mengenai kondisi anak dalam video, AK (12), siswa kelas VI SD di Dusun Sukaraja 1 RT 03. Dari hasil kunjungan pemerintah kecamatan dan desa, AK diketahui hidup dalam keterbatasan.

AK hanya memiliki satu stel seragam sekolah yang kondisinya sudah kotor, sehingga kadang ia tidak bisa berangkat sekolah. Ayahnya bekerja serabutan sebagai sopir atau buruh kebun, kerap pergi tiga hingga tujuh hari meninggalkan rumah. Sementara ibunya sudah lama berpisah, membuat AK harus tinggal sendiri dan mengurus kebutuhan hariannya.

“Sebelumnya AK pernah menerima bantuan BPNT (Bantuan Pangan Non-Tunai), tetapi setelah orang tuanya berpisah, bantuan itu tidak lagi diterimanya,” ungkap Darlis.

Sebagai tindak lanjut, pemerintah kecamatan bersama pemerintah desa menyalurkan bantuan berupa seragam sekolah baru, perlengkapan belajar, serta paket sembako untuk kebutuhan sehari-hari AK.

“Kami ingin memastikan AK tetap bisa bersekolah dan tidak terbebani kondisinya,” tambah Darlis.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *